Minggu, 13 Januari 2013

Keinginan Sumber Semangatku


            Terlihat dibalik jendela seorang gadis manis yang bernama Renya sedang melamun. Ia memikirkan masalah yang terjadi pada keluarganya. Ayahnya sedang sakit keras sejak satu minggu yang lalu. Terpaksa ibunya harus menggantikan posisi sang ayah sebagai tulang punggung keluarga. Pagi-pagi ibu Renya harus berjualan di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang sekolah anak-anaknya. Renya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Renya mempunyai seorang kakak laki-laki yang sudah dua tahun merantau tapi sampai sekarang tidak memberi kabar sama sekali, dan seorang adik perempuan yang masih duduk di kelas satu smp.
           Pesta ulang tahun Arini sangat meriah, semua anak-anak bersenang-senang mengikuti acara pesta yang telah disusun dengan meriahnya. Arini adalah anak orang kaya dan anak tunggal, apapun yang dia mau pasti ia dapatkan, karena orang tuanya selalu memanjakan dia. Dia juga baik dan cantik bak bidadari turun dari langhit jadi tidak heran kalau dia jadi primadona disekolah. Renya datang ke acara pesta ini bersam Yusmi, teman dekatnya. Renya sangat kagum dengan penampilan Arini. Renya pun langsung menemui Arini dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Arini menyambutnya dengan senyuman manis dan berterimakasih pada Renya.
            Kebiasaan buruk Renya setiap pagi ini terulang lagi, dia bangun kesiangan yang menyebabkan dia telat masuk sekolah. Padahal jam weker sudah bunyi sejak jam 5 pagi, tapi Renya hanya terbangun sebentar untuk sekedar mematikannya. Ketika ibu mebangunkannya jam sudah menunnjukkan setengah tujuh. Renya langsung geragapan, tanpa basa-basi dia langsung menuju kamar mandi, mandinya pun tidak lama mungkin hanya sekedar untuk membasahi tubuhnya saja. Setelah rapi dia langsung berangkat sekolah. “Bu, Renya berangkat yah! Assalamu’alaikum.” Sambil mencium tangan Ibunya. Jarak rumah Renya dengan sekolah tidak terlalu jauh, dia lari sekencang-kencangnya. “pak satpaaammm, tungguu!!” teriak Renya. “ayo cepat masuk, sebentar lagi pelajaran dimulai.” Sahut Pak satpam. “iya pak, makasih.” Jawab Renya.
            Kali ini Renya masih beruntung karena pak satpam lagi berbaik hati padanya. Renya melihat Pak Jeno sedang menuju kelasnya. Renya pun langsung lari agar tidak disetrap Pak Jeno, guru paling kiler di sekolahnya. “huh, baru juga nyantai, eh udah di ajak lari lagi, nasib gue hari ini kurang baik.” Keluh rena saat memasuki kelasnya. Sekejap semua temannya tertuju pada Renya, karena penampilannya yang kurang rapih akibat berangkat sekolah lari-lari, tapi Renya tidak memperdulikannya. “Ren, kamu mandi gga sih??” tanya Yusmi teman sebangku Renya. “ya udah dong, tapi cuma sekedar membasahi badan aja hehe...” jawab Renya. “gila luhh, pantes aja bau, penampilan juga serabutan gitu kaya anak gga keurus.” Komentar Yusmi pada Renya. Guru kiler pun masuk, “keluarkan bugu tugas kalian!” pinta Pak jeno. Semua siswa mengeluarkan buku tugasnya, kecuali Renya. “Renya, mana buku tugasmu?” tanya pak Jeno. “itu pak, anu buku saya ketinggalan.” Jawab Renya. “apa? Ketinggalan! Pasti tadi malam kamu tidak belajarkan?” tanya Pak Jeno lagi. Dengan polosnya renya menjawab “hehe, iya pak, kan tadi malem habis pesta di rumah Arini, terus saya pulangnya agak malem pak. Nyampe rumah ngantuk, jadi langsung tidur pak, hehe maap ya pak... tapi janji deh gga bakalan ulangi ini lagi, sekali lagi maap ya Pak please!” pinta Renya dengan wajah memelas pada Pak Jeno. “alah, banyak alasan kau.. kamu tetap bapak hukum, silahkan kamu berdiri didepan sampai pelajaran saya selesai. Cepetan!” Perintah Pak Jeno kepada Renya. “iiiiiiiiya pak...” Renya langsung bergegas ke depan kelas.
            Bel pulang pun berbunyi, seluruh murid bergegas keluar kelas untuk pulang kerumah masing-masing. Tetapi tidak bagi Renya ia harus bekerja membantu ibunya berjualan di pasar untuk menebus obat ayahnya.
            “Bu, Renya bantu yah.” 
            Ibunya menjawab “kamu kan harusnya dirumah, jaga adik dan ayah.”
            “Yah ibu, adik kan udah gede jadi ga usah dijaga lagi.”
            “ya sudah kalau itu mau kamu, kamu bantu ibu melayani pelanggan.”
            “Ok bu J
            Hari ini dagangan Ibu Renya laris manis, jadi mereka pulang tidak terlalu sore. “Bu, uang segini cukup kan buat beli obat ayah?” tanya Renya. “iya, segitu cukup” jawab ibunya. “yasudah ibu pulang aja, biar Renya yang menebus obat ayah di apotek”. Ibu Renya kelihatan terharu dengan sikap Renya yang begitu perhatian “kamu hati-hati di jalan yah!”. “Iya ibu, ibu juga hati-hati yah.” Ibunya hanya menganggukkan kepala dan Renya langsung pergi ke apotek.
            Sampai depan rumah Renya terdiam dan bingung karena banyak orang dirumahnya. Akhirnya Renya menanyakan kepada Ibu Sina, tetangga dekatnya “bu, mau nanya kok rumah saya banyak orang?” Ibu Sina langsung memeluk Renya dan mengatakan “Yang sabar ya nak, ini cobaan buat keluarga kamu satu jam yang lalu ayahmu menghembuskan nafas terakhirnya.” Sekejap Renya langsung melepaskan peluka ibu Sina dan langsung lari masuk kerumahnya. Terlihat didalam rumah ibu dan adiknya tak kuasa menahan tangis atas kepergian ayahnya begitu pun dengan Renya. “ayaaaahhhhhh....” teriak Renya. “Renya yang sabar nak, ibu dan adik juga sedih dengan kepergian ayahmu.” Bujuk ibunya agar Renya merelakan kepergian ayahnya.
            Tiga hari setelah kepergian ayahnya Renya mulai sadar bahwa kepergian ayahnya bukanlah akhir dari segalanya. Renya mulai menjalani aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Setelah sebelumnya ia hanya termenung dikamar. Ibu nya pun kagum dengan semangatnya. Ujian kelulusan akan segera dilaksanakan. Renya belajar keras agar lulus dengan nilai yang memuaskan dan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Tetapi ibunya tidak sanggup untuk membiayai kuliahnya.
“ibu tenang saja, Renya akan tetap kuliah dengan jalan beasiswa. Renya akan berusaha untuk mendapatkan beasiswa di universitas ternama di kota ini.”
“Ibu bangga punya anak seperti kamu nak, walaupun sampai sekarang kakak kamu tiada kabar.”
“makasih bu, mungkin kakak lagi sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak sempat untuk mengabari kita. Renya yakin bu, suatu saat kakak pasti pulang.”
“hidup ini memang banyak rintangan nak, tetapi asal kita ikhlas menjalaninya pasti kita bisa melewati rintangan itu.”
“Iya bu, Renya jadi semakin yakin kalau Renya pasti bisa mendapatkan beasiswa itu.”
“iya ibu juga yakin, semangatmu memang tinggi. Do’a ibu selalu menyertaimu.”
“terima kasih ibu.” Renya dan ibunya berpelukan.
            Empat hari Renya melaksanakan ujian kelulusan dan tibalah saatnya untuk pengumuman kelulusan. Sangat tidak menduga ternyata Renya mendapat nilai tertinggi di sekolahnya. Akhirnya tanpa mengikuti tes seleksi untuk mendapatkan beasiswa, ternyata universitas yang diinginkan Renya menawarkan beasiswa. Berita gembira ini langsung disampaikan kepada ibunya. Ibunya langsung memeluk Renya sambil menangis bahagia dan berkata “terima kasih ya allah, engkau telah mengabulkan keinginan anak hamba. Walaupun ayah mu telah tiada, Ibu yakin ayah pasti bangga denganmu nak”. Keesokan harinya Renya bersama ibunya pergi ke universitas tersebut untuk menerima beasiswa yang ditawarkan. “Selamat Renya mulai saat ini kamu sudah menjadi mahasiswa di universitas ini” ucap sang dosen yang akan mengajarinya selama ia menjadi mahasiswa di universitas tersebut. 
            Akhirnya dengan bekal tekad dan semangat yang kuat Renya berhasil kuliah di universitas yang ternama di kotanya. Renya berharap adiknya pun bisa sepertinya. Renya juga berharap kakaknya bisa segera memberi kabar agar ibu tidak khawatir lagi akan keadaannya. “Tetaplah tersenyum ketika dunia memberimu seribu alasan untuk bersedih karena kamu mempunyai sejuta alasan untuk tersenyum. Semangatku adalah detak jantungku, Merah darahku adalah tekadku. Itulah seuntai kata terungkap dari jiwaku. Dengan seulas senyum adalah pesona jiwa mewakili perasaan.” Itulah motivasi Renya dalam menghadapi rintangan yang menghadangnya.


JTAMATJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar