Terlihat
dibalik jendela seorang gadis manis yang bernama Renya sedang melamun. Ia
memikirkan masalah yang terjadi pada keluarganya. Ayahnya sedang sakit keras
sejak satu minggu yang lalu. Terpaksa ibunya harus menggantikan posisi sang
ayah sebagai tulang punggung keluarga. Pagi-pagi ibu Renya harus berjualan di
pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang sekolah
anak-anaknya. Renya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Renya mempunyai
seorang kakak laki-laki yang sudah dua tahun merantau tapi sampai sekarang
tidak memberi kabar sama sekali, dan seorang adik perempuan yang masih duduk di
kelas satu smp.
Pesta ulang tahun Arini sangat
meriah, semua anak-anak bersenang-senang mengikuti acara pesta yang telah
disusun dengan meriahnya. Arini adalah anak orang kaya dan anak tunggal, apapun
yang dia mau pasti ia dapatkan, karena orang tuanya selalu memanjakan dia. Dia
juga baik dan cantik bak bidadari turun dari langhit jadi tidak heran kalau dia
jadi primadona disekolah. Renya datang ke acara pesta ini bersam Yusmi, teman
dekatnya. Renya sangat kagum dengan penampilan Arini. Renya pun langsung
menemui Arini dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Arini menyambutnya
dengan senyuman manis dan berterimakasih pada Renya.
Kebiasaan
buruk Renya setiap pagi ini terulang lagi, dia bangun kesiangan yang
menyebabkan dia telat masuk sekolah. Padahal jam weker sudah bunyi sejak jam 5
pagi, tapi Renya hanya terbangun sebentar untuk sekedar mematikannya. Ketika
ibu mebangunkannya jam sudah menunnjukkan setengah tujuh. Renya langsung
geragapan, tanpa basa-basi dia langsung menuju kamar mandi, mandinya pun tidak
lama mungkin hanya sekedar untuk membasahi tubuhnya saja. Setelah rapi dia
langsung berangkat sekolah. “Bu, Renya berangkat yah! Assalamu’alaikum.” Sambil
mencium tangan Ibunya. Jarak rumah Renya dengan sekolah tidak terlalu jauh, dia
lari sekencang-kencangnya. “pak satpaaammm, tungguu!!” teriak Renya. “ayo cepat
masuk, sebentar lagi pelajaran dimulai.” Sahut Pak satpam. “iya pak, makasih.”
Jawab Renya.
Kali
ini Renya masih beruntung karena pak satpam lagi berbaik hati padanya. Renya melihat
Pak Jeno sedang menuju kelasnya. Renya pun langsung lari agar tidak disetrap
Pak Jeno, guru paling kiler di sekolahnya. “huh, baru juga nyantai, eh udah di
ajak lari lagi, nasib gue hari ini kurang baik.” Keluh rena saat memasuki
kelasnya. Sekejap semua temannya tertuju pada Renya, karena penampilannya yang
kurang rapih akibat berangkat sekolah lari-lari, tapi Renya tidak
memperdulikannya. “Ren, kamu mandi gga sih??” tanya Yusmi teman sebangku Renya.
“ya udah dong, tapi cuma sekedar membasahi badan aja hehe...” jawab Renya.
“gila luhh, pantes aja bau, penampilan juga serabutan gitu kaya anak gga keurus.”
Komentar Yusmi pada Renya. Guru kiler pun masuk, “keluarkan bugu tugas kalian!”
pinta Pak jeno. Semua siswa mengeluarkan buku tugasnya, kecuali Renya. “Renya,
mana buku tugasmu?” tanya pak Jeno. “itu pak, anu buku saya ketinggalan.” Jawab
Renya. “apa? Ketinggalan! Pasti tadi malam kamu tidak belajarkan?” tanya Pak
Jeno lagi. Dengan polosnya renya menjawab “hehe, iya pak, kan tadi malem habis
pesta di rumah Arini, terus saya pulangnya agak malem pak. Nyampe rumah
ngantuk, jadi langsung tidur pak, hehe maap ya pak... tapi janji deh gga
bakalan ulangi ini lagi, sekali lagi maap ya Pak please!” pinta Renya dengan
wajah memelas pada Pak Jeno. “alah, banyak alasan kau.. kamu tetap bapak hukum,
silahkan kamu berdiri didepan sampai pelajaran saya selesai. Cepetan!” Perintah
Pak Jeno kepada Renya. “iiiiiiiiya pak...” Renya langsung bergegas ke depan
kelas.
Bel
pulang pun berbunyi, seluruh murid bergegas keluar kelas untuk pulang kerumah
masing-masing. Tetapi tidak bagi Renya ia harus bekerja membantu ibunya berjualan
di pasar untuk menebus obat ayahnya.
“Bu,
Renya bantu yah.”
Ibunya
menjawab “kamu kan harusnya dirumah, jaga adik dan ayah.”
“Yah
ibu, adik kan udah gede jadi ga usah dijaga lagi.”
“ya
sudah kalau itu mau kamu, kamu bantu ibu melayani pelanggan.”
“Ok
bu J”
Hari
ini dagangan Ibu Renya laris manis, jadi mereka pulang tidak terlalu sore. “Bu,
uang segini cukup kan buat beli obat ayah?” tanya Renya. “iya, segitu cukup”
jawab ibunya. “yasudah ibu pulang aja, biar Renya yang menebus obat ayah di
apotek”. Ibu Renya kelihatan terharu dengan sikap Renya yang begitu perhatian
“kamu hati-hati di jalan yah!”. “Iya ibu, ibu juga hati-hati yah.” Ibunya hanya
menganggukkan kepala dan Renya langsung pergi ke apotek.
Sampai
depan rumah Renya terdiam dan bingung karena banyak orang dirumahnya. Akhirnya
Renya menanyakan kepada Ibu Sina, tetangga dekatnya “bu, mau nanya kok rumah
saya banyak orang?” Ibu Sina langsung memeluk Renya dan mengatakan “Yang sabar
ya nak, ini cobaan buat keluarga kamu satu jam yang lalu ayahmu menghembuskan
nafas terakhirnya.” Sekejap Renya langsung melepaskan peluka ibu Sina dan
langsung lari masuk kerumahnya. Terlihat didalam rumah ibu dan adiknya tak
kuasa menahan tangis atas kepergian ayahnya begitu pun dengan Renya.
“ayaaaahhhhhh....” teriak Renya. “Renya yang sabar nak, ibu dan adik juga sedih
dengan kepergian ayahmu.” Bujuk ibunya agar Renya merelakan kepergian ayahnya.
Tiga
hari setelah kepergian ayahnya Renya mulai sadar bahwa kepergian ayahnya
bukanlah akhir dari segalanya. Renya mulai menjalani aktivitas sehari-harinya
seperti biasa. Setelah sebelumnya ia hanya termenung dikamar. Ibu nya pun kagum
dengan semangatnya. Ujian kelulusan akan segera dilaksanakan. Renya belajar keras
agar lulus dengan nilai yang memuaskan dan bisa melanjutkan ke perguruan
tinggi. Tetapi ibunya tidak sanggup untuk membiayai kuliahnya.
“ibu tenang saja, Renya akan tetap
kuliah dengan jalan beasiswa. Renya akan berusaha untuk mendapatkan beasiswa di
universitas ternama di kota ini.”
“Ibu bangga punya anak seperti kamu
nak, walaupun sampai sekarang kakak kamu tiada kabar.”
“makasih bu, mungkin kakak lagi sibuk
dengan pekerjaannya jadi tidak sempat untuk mengabari kita. Renya yakin bu,
suatu saat kakak pasti pulang.”
“hidup ini memang banyak rintangan
nak, tetapi asal kita ikhlas menjalaninya pasti kita bisa melewati rintangan
itu.”
“Iya bu, Renya jadi semakin yakin
kalau Renya pasti bisa mendapatkan beasiswa itu.”
“iya ibu juga yakin, semangatmu memang
tinggi. Do’a ibu selalu menyertaimu.”
“terima kasih ibu.” Renya dan ibunya
berpelukan.
Empat
hari Renya melaksanakan ujian kelulusan dan tibalah saatnya untuk pengumuman kelulusan.
Sangat tidak menduga ternyata Renya mendapat nilai tertinggi di sekolahnya.
Akhirnya tanpa mengikuti tes seleksi untuk mendapatkan beasiswa, ternyata universitas
yang diinginkan Renya menawarkan beasiswa. Berita gembira ini langsung
disampaikan kepada ibunya. Ibunya langsung memeluk Renya sambil menangis
bahagia dan berkata “terima kasih ya allah, engkau telah mengabulkan keinginan
anak hamba. Walaupun ayah mu telah tiada, Ibu yakin ayah pasti bangga denganmu
nak”. Keesokan harinya Renya bersama ibunya pergi ke universitas tersebut untuk
menerima beasiswa yang ditawarkan. “Selamat Renya mulai saat ini kamu sudah
menjadi mahasiswa di universitas ini” ucap sang dosen yang akan mengajarinya
selama ia menjadi mahasiswa di universitas tersebut.
Akhirnya
dengan bekal tekad dan semangat yang kuat Renya berhasil kuliah di universitas yang
ternama di kotanya. Renya berharap adiknya pun bisa sepertinya. Renya juga
berharap kakaknya bisa segera memberi kabar agar ibu tidak khawatir lagi akan
keadaannya. “Tetaplah tersenyum ketika dunia memberimu seribu alasan untuk
bersedih karena kamu mempunyai sejuta alasan untuk tersenyum. Semangatku adalah
detak jantungku, Merah darahku adalah tekadku. Itulah seuntai kata terungkap
dari jiwaku. Dengan seulas senyum adalah pesona jiwa mewakili perasaan.” Itulah
motivasi Renya dalam menghadapi rintangan yang menghadangnya.
JTAMATJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar